Agraria.today – Pecinta musik Tanah Air pasti cukup mengenal grup music Bimbo, khususnya generasi tahun 70 dan 80-an. Grup musik yang didirikan tahun 1966 di Bandung ini beranggotakan Sam Bimbo, Acil Bimbo, Jaka Bimbo dan Iin Parlina Bimbo. Pada 6 Mei 2026 kemarin Sam Bimbo, yang bernama lengkap Samsudin Hardjakusumah ini merayakan ulang tahun yang ke-84, dan dirayakan secara sederhana di salah satu resto di kawasan Dago, Bandung, Rabu (6/4) siang.
Kang Sam sapaan Sam Bimbo siang itu didampingi istrinya, Rubaah Samsudin. Turut hadir Riza Falepi, mantan Walikota Payakumbuh, Sumatera Barat, dua periode 2012-2022, yang didampingi Raja Asdi, Pimpinan Umum/Pimpinan Redaksi media Agraria Today, greenbluehub.id, sekaligus mewakili Generasi Lintas Budaya Merawat Lingkungan dan Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP).
Berikut petikan hasil wawancara dengan Sam Bimbo:
Tanya: Bagaiamana perasaan Kang Sam mencapai usia 84 tahun dan 50 tahun berprofesi sebagai seniman musik?
Jawab: Pastinya saya sangat bahagia sekarang umur 84 tahun masih bisa nyanyi, masih bisa komunikasi, belum pikun. Masih bisa komunikasi dengan baik. Sering lupa, iya. Daya mengingat sudah menurun. Memori sudah mengalami gradasi alami ya, mengikuti usia lanjut. Oleh karena itu natural ya. Jadi buat saya alhamdulillah bisa menjalani hidup sampai sekarang.
Saya bisa melihat perjalanan hidup, khususnya hidup seniman. Saya mengikuti sejak zaman Sam Saimun, era itu kehidupan seniman dari aspek ekonominya susah. Jadi ya dunia musik atau dunia seni di zaman itu tidak jelas royaltinya dan tidak pasti bayarannya sebenarnya berapa .
Tanya: Bagaimana pandangan Kang Sam mengenai seniman dan kemajuan musik Indonesia saat ini?
Jawab: Yang jelas kemungkinan sekarang dan kesempatan untuk berkarir di musik peluangnya sangat besar dan terbuka. Di zaman saya bermusik itu sulit. Tahu royalti aja enggak. Kalau sekarang tinggal perjanjiannya untung rugi buat kita.
Tanya: Ada rencana kapan Bimbo akan tampil lagi?
Jawab: Sesudah Acil meninggal 1 September 2025, kami pasif. Karena mayoritas lagu Bimbo yang menyanyikan Acil.
Setiap kami bikin lagu ini cocoknya suara siapa… ohh ini Acil…, ooh ini Jaka, ooh ini Iin Parlina… ooh ini saya.
Suara Acil kuncinya beda dengan saya. Kuncinya Acil standar sementara kunci saya di atas. Jadi, kalau saya menyanyikan lagu Acil harus berubah kuncinya.
Sementara istirahat dulu. Sekarang bulan Mei insya Allah Agustus kami lari lagi. Cuma sekarang lagu lagu yang kami gubah lagu lagu tematis. Semisal lagu korupsi, kita tidak langsung koruptor tembak di tempat. Tentunya kami menggunakan bahasa seni yang lebih santun cuma targetnya ke sana.
Tanya: Lagu-lagu Bimbo tidak melulu cinta. Ada juga bertemakan fenomena sosial dan politik, bagaimana itu ceritanya?
Jawab: Ya betul. Seperti lagu Tante Sun mengangkat fenomena sosial kehidupan di kalangan atas saat itu. Lagu Tante Sun mengangkat fenomena sosial bagaimana kehidupan ibu-ibu kalangan atas mengimbau suaminya masuk ke dunia bisnis. Wartawan tajam lagu itu kaca matanya diarahkan ke ibu Tien.
Dan orang bingung Tante Sun ini siapa? Tapi orang yang pintar ngarti nih siapa yang jadi sasaran. Kami ciptakan lagu itu umum saja, tidak bermaksud khusus si A atau si B. Cuma isu beredar gara-gara lagu itu saya ditangkap. Enggak ada penangkapan itu.
Tapi lagu Tante Sun sempat tidak boleh muncul. Jadi, alhamdulillah selamat. Karena saat itu saya dengan beberapa petinggi TNI dan Polri kenal dekat. Dan rata-rata mereka kan lebih muda. Kami saling menghormati aja, walau sempat dipanggil ya, mereka bertanya baik-baik, tidak ada bentakan-bentakan.
Ketika kami ketemu Bu Tien, dia baik baik saja. Malah kami pernah dipanggil ke Istana Negara, disuruh nyanyi. Lagunya bebas. Kalau tidak salah kami baru pulang dari Bangkok kami terima undangan. Si Jaka sama Acil pulang, saya berdua Iin. In, kita dapat undangan nih ke Istana. Kami khawatir juga, bakal diapa-apain. Pas ketemu Bu Tien bilang apa kabar, “ke sini nak!” Masa kita mau gagah gagahan jawabnya lagu Bimbo bagus-bagus, “susah ndak bikin lagu?” tanya Bu Tien?” Demikian juga dengan Pak Harto.
Tanya: Pernah manggung di Istana Negara?
Jawab: Saya kan dekat dengan Pak Emil Salim. Sewaktu ada konferensi tentang lingkungan hidup, Presiden (Soeharto) hadir dan Pak Emil menterinya.
Kami berempat hadir dengan rapi dan resmi pakai jas. Anehnya oleh security tidak boleh masuk dan hanya boleh duduk paling belakang. Saya dan Acil ngambek. Ini lucu banget sih. Kami undangan kok tidak boleh masuk. Saya dan Acil berdua sepakat mau pulang Kata Iin, sabar sabar. Akhirnya kami sabar nunggu.

Selesai acara protokoler ada pengumuman undangan dipersilakan mengambil snack. Kecuali kelompok Bimbo waktunya untuk berdialog dengan Bapak Presiden.
Saya lihat mukanya security celingukan. Dalam hati ‘lu baru tahu ya, siapa gua.’
Tanya: Selama berkarir di musik pernah berurusan dengan aparat?
Jawab: Yang jelas saya ingin bergaul baik dengan semua orang, baik aparatur pemerintah sesama seniman dan wartawan, karena ayah saya wartawan.
Ketika lagu Reagan dan Bresnev ada isu kami, Bimbo, akan diundang keliling Uni Sovyet. Ada imbauan dari intelejen jangan ke sana. Kalau Sovyet mengundang Bimbo ke sana, nantinya ada timbal balik, Indonesia harus mengundang seniman Sovyet kelling Indonesia.
Waktu Galunggung meletus saya dan Pak Emil ke Garut. Kamj prinsip kerjanya seperti wartawan, merekam peristiwanya. Wartawan menjadi berita saya dan Bimbo menjadikan ya sebagai lagu.
Dan, terus terang saja, kami enggak pernah dapat duit dari pemerintah.
Lagu bimbo sampai sekarang relate dengan peristiwa, sampai qaidah ralate dengan moment dan timingnya.
Volume pertama lirik lagu saya semua yang buat. Volume kedua, kami minta Taufik Ismail yang menbuat liriknya, kami berbagi, tidak mau rakus.
Tanya :Apa rencaana bermusik ke depan?
Jawab: Di usia sekarang saya ingin membuat lagu yang bertema dan yang mendalam dan bermanfaat. Henteu garabag gurubug teu puguh. Dan bernunansa kesukaan anak anak muda sekarang yang ngebeat yang bisa buat goyang. Sedang dalam proses penyelesaian ada lima lagu siap dirilis. Biasanya lagu ngebeat itu selain saya, Iin.
Tanya : Sebagai pelukis dan sarjana seni rupa tamatan ITB apa rencana ke depan?
Jawab: Mengenai lukisan saya masih tetap berkarya, dan ada perubahan orientasi dalam melukis. Dulu saya lukisan bergenre natural, sekarang saya sedang berorientasi melukis abstrak.
Beberapa karya lukis di gedung MPR RI sepanjang 40 meter. Lukisan lainnya Kedutaan Indonesia di Bangkok. Saya melukis di sana, pada saat itu Dubesnya almarhum HR Darsono, mantan Pangdam Siliwangi.
Di Bandung lukisan saya di Gedung PLN. Saya ingin pameran kalau tidak tahun ini, paling lambat tahun depan insya Allah.
Rubaah Samsudin, istri Kang Sam Bimbo:
“Dulu ada yang bilang seniman itu suka sensitif dan sensitifnya jangan ditumbuhkan harus dihilangkan.
Selama mengarungi rumah tangga, bagi saya dan anak anak, dia seorang ayah dan suami yang baik. Rata-rata personil Bimbo itu tidak pegang uang, paling buat rokok dan ongkos aja. Gak ada yang aneh aneh.
Sekarang ini ya sehat ibadah yang baik, persiapan pulang.
Awal pernikahan ada ya rasa cemburu. Tapi kata ayah saya suami jangan sering ducemburuin nanti bisa jadi beneran. Kalau suamimu pergi antar dia sampai pintu pagar. Setelah suami pergi duduk dan doakan suami kepada Allah. Jangan dipikirin yang aneh dan pikiran ke mana mana, urus anak yang benar.
Pulang dari show atau dari luar negeri tanya, sudah ke ibunya atau belum. Kalau belum suruh ke ibunya dulu karena surganya ada di sana.
Riza Falepi, Penggemar Bimbo:
Saya hanya dua yang saya gemari, untuk penyanyi solo yang menggemari lagu-lagu Ebiet G Ade, sedangkan untuk grup atau band saya, menyukai Bimbo. Lirik puitis, indah dan sarat makna dibawakannya seperti bercerita, balada, ya.
Di samping itu masih relate dengan zaman sekarang dan tidak pernah bosan mendengarnya.
