Terkini AgrariaSutera Liar Karangtengah Dukung PRB Berbasis Kesejahteraan Masyarakat

Sutera Liar Karangtengah Dukung PRB Berbasis Kesejahteraan Masyarakat

YOGYAKARTA – Wilayah yang dulunya gersang di Desa Karangtengah, Imogiri, D.I. Yogyakarta, kini tampak hijau dengan pohon jambu mete dan beberapa jenis pohon lain. Jambu mete tak hanya memiliki nilai ekonomi berlipat tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan, termasuk potensi bencana hidrometeorologi.

Desa yang terletak di bagian selatan Kabupaten Bantul ini dahulu dikenal sebagai wilayah yang memiliki lahan kritis. Upaya penghijauan dilakukan salah satunya dengan membudidayakan tanaman yang sudah ada di wilayah itu, yaitu jambu mete. Penggiat lingkungan sekaligus Ketua Yayasan Royal Silk Fitriani Kuroda memulai upaya untuk memberdayakan warga setempat sejak 17 tahun lalu.

“Tidak ada satu pohon berdiri. Ini semua tidak ada pohon,” ujar Fitriani pada Jumat (28/8).

Dengan pemanfaatan 150 hektar, ia dan para penggiat lain mencoba dengan mengembangkan sutera liar dari kokon yang dihasilkan ular gajah yang dikombinasikan dengan pohon jambu mete. Ide sutera liar ini didorong oleh konferensi tingkat dunia sutera liar yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 2009.

Mereka pun berhasil dengan mengembangkan wilayah dengan jambu mete dan penghasil sutera emas atau golden silk. Sutera yang berasal dari kokon cikal bakal kupu-kupu gajah penghasil sutera berwarna emas satu-satunya di dunia.

“Kita ingin memberdayakan masyarakat, sekaligus untuk lingkungan. Idenya cultural-based environment and poverty,” tambahnya.

Ia mengatakan pada mulanya para penggiat membina petani setempat yang tidak mempunyai lahan.

Baca juga  Serah Terima Jabatan Sekjen Kementerian ATR/BPN, Pudji Prasetijanto Hadi Minta Dukungan dalam Mengemban Amanah

“Waktu itu penduduk transmigrasi lokal posisinya lahan yang mudah longsor. Bagaimana kita memberikan edukasi mulai dari rumah mereka dengan menanam pohon mahogani atau jati. Yang semua bisa tumbuh besar dan menjadi pakan ulat sutera tersebut,” ungkapnya.

Di sisi lain, penghijauan wilayah dengan mayoritas pohon jambu mete dapat bermanfaat untuk mencegah bencana hidrometeorologi, seperti kekeringan, banjir dan longsor. Deputi Bidang Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana Wisnu Widjaja berharap inisiatif seperti ini dapat mendorong sebagai suatu Gerakan.

“Masyarakat sejahtera di wilayah rawan bencana. Mereka lebih tangguh karena punya banyak pilihan. Ini selaras program kami. Mendorong kesejahteraan sehingga mengurangi risiko mereka,” ujar Wisnu.

Wisnu juga mengatakan, Tindakan seperti ini bermanfaat untuk lingkungan dan ini dapat mencegah bencana hidrometeorologi. Ini menjadi kolaborasi sangat bagus untuk program pengurangan risiko bencana (PRB) berbasis kesejahteraan.

Sementara itu, saat itu Fitri memulai dengan 45 KK. Namun dari sejumlah keluarga tersebut, lebih banyak keluarga terlibat, khususnya untuk mengerjakan lahan. Waktu itu satu keluarga mendapat satu hektar atau besar-kecil.

Sutera liar yang dihasilkan kokon sangat cocok dengan pohon jambu mete. Sedangkan tanaman lain, mangga atau pisang sulit untuk tumbuh di wilayah ini. Namun demikian, pohon jambu mete menjadi aset yang berharga. Selain daunnya sebagai pakan ulat gajah yang berubah menjadi kokon, buah mete memiliki nilai ekonomi tambahan. Pemanfaatan buah dan biji mete dapat digunakan menjadi diversifikasi produk, seperti buah untuk jus, kripik dan abon, dan biji mete untuk makanan ringan.

Baca juga  Presiden Ajak Seluruh Pihak Semai Kerukunan dan Persaudaraan

 

Produksi Sutera Liar

Sutera liar yang dihasilkan kokon ini diolah dengan cara traditional. Melalui mesin pintal yang sudah lama dikenal di Jepang diterapkan oleh para pemintal. Mesin terbuat dengan teknik yang dikerjakan dengan alat berbahan kayu yang dilengkapi dinamo. Pengerjaan digerakkan dengan pengendalian tangan dan perasaan.

“Butuh satu tahun melatih untuk 22 orang. Mereka dilatih langsung dari Jepang. Alat asli dari Jepang,” ujar Fitri.

Fitri menjelaskan, dalam proses pembuatan benang dari kokon kosong, konsep berbeda sutera putih. Kekhususan sutera liar yakni pengolahan benang tanpa harus membunuh kokon. Ini berbeda dengan pengolahan sutera putih.

“Mereka menarik benang ingin setipis mungkin untuk sutera putih, lalu suteranya harus direbus untuk mendapatkan sutera tanpa cacat,” jelasnya.

Terkait dengan berat benang, Fitri mengatakan 1 kg kokon akan menghasilkan setengah kilogram benang. Gambarannya kain 1 meter membutuhkan sekitar 250 gram benang.

Kokon sudah dimanfaatkan untuk berbagai produk, selain diambil suteranya, kokon digunakan untuk penghias barang kerajinan lain.

Pencapaian sutera liar di Desa Karangtengah ini merupakan kisah sukses dalam konteks sustainable development goals yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ini merupakan hasil karya yang sangat unik dari Indonesia.

 

#SiapUntukSelamat
#KitaJagaAlam
#AlamJagaKita
#BersatuLawanCovid19
#CuciTangan
#JagaJarak
#MaskerUntukSemua
#DiRumahAja

Latest Articles

Upaya Berkelanjutan Satgas PRR Sukses Normalisasi Puluhan Sungai dan Muara Terdampak Bencana

Agraria.today - Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi...

Menteri Nusron Imbau Kepala Daerah Se-NTB Percepat Penyusunan RDTR untuk Optimalkan Potensi Daerah

Agraria.today | Mataram - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala...

Setiap ASN Adalah Humas, CPNS ATR/BPN Perlu Menjadi Penghubung Informasi yang Dipahami Masyarakat

Agraria.today | Cikeas - Dalam era digital yang serba...

Ikuti Arahan WFH di Hari Jumat, Kementerian ATR/BPN Pastikan Layanan Pertanahan Tetap Berjalan Optimal

Agraria.today | Jakarta - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan...

Kementerian ATR/BPN Jadi Supporting Utama PSN Pelabuhan Palembang Baru Tanjung Carat

Agraria.today | Palembang - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan...

Ruko Berstatus HGB Bisa Jadi Hak Milik, Simak Syarat dan Ketentuannya

Agraria.today | Jakarta - Status hak atas tanah menjadi...

Related Articles

Menteri Nusron Imbau Kepala Daerah Se-NTB Percepat Penyusunan RDTR untuk Optimalkan Potensi Daerah

Agraria.today | Mataram - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, mengimbau pemerintah daerah (Pemda) di Provinsi Nusa Tenggara Barat...

Setiap ASN Adalah Humas, CPNS ATR/BPN Perlu Menjadi Penghubung Informasi yang Dipahami Masyarakat

Agraria.today | Cikeas - Dalam era digital yang serba cepat dan terbuka, setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional...

Ikuti Arahan WFH di Hari Jumat, Kementerian ATR/BPN Pastikan Layanan Pertanahan Tetap Berjalan Optimal

Agraria.today | Jakarta - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menetapkan kebijakan work from home (WFH) setiap hari Jumat. Kebijakan ini merujuk...