Terkini AgrariaTernyata, Harga Cabai Rawit di Sentra Produksi Tak Semuanya Mahal

Ternyata, Harga Cabai Rawit di Sentra Produksi Tak Semuanya Mahal

Jakarta – Kementerian Pertanian terus berupaya mengamankan pasokan cabai di tengah tantangan musim kemarau yang melanda berbagai daerah. Meski mengalami kenaikan, harga cabai rawit merah di beberapa sentra terutama di Pulau Jawa diprediksi tidak akan berlangsung lama seiring dengan masuknya musim panen yang dimulai akhir Agustus 2019.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Yasid Taufiq, saat dihubungi di Jakarta (7/8), menyebut kenaikan harga cabai tidak terjadi secara merata namun hanya di beberapa kawasan saja terutama Pulau Jawa. “Sebenarnya kenaikan harga cabai rawit hingga diatas Rp 50.000 per kilo di tingkat petani tidak terjadi secara meluas. Paling banyak hanya di sentra Pulau Jawa. Namun karena langsung memasok pasar DKI Jakarta dan kota-kota besar di Jawa, efek psikologis pasarnya terasa meluas kemana-mana,” ujar Yasid.

“Pantauan kami sejauh ini, di zona luar Jawa seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, sebagian Sumatera dan Kalimantan, harga di petani masih wajar kok,” jelasnya.

Menurut Yasid, harga cabai di Pulau Jawa rentan terjadi fluktuasi karena pasokan untuk kota-kota besar masih mengandalkan dari beberapa sentra utama saja. “Pasokan cabai terlalu mengandalkan daerah-daerah tertentu. Pemain pasarnya pun itu-itu saja. Sedikit saja muncul gangguan produksi cabai rawit di sentra-sentra produksi utama Pulau Jawa seperti Banyuwangi, Blitar, Kediri, Temanggung, Magelang dan Cianjur, sangat rentan mempengaruhi harga di Jakarta dan kota-kota besar lainnya,” terang Yasid.

Baca juga  Pengendalian Hama Lalat Buah Pada Tanaman Salak di Kabupaten Magelang

Berdasarkan pemantauan Posko Cabai dan Bawang Ditjen Hortikultura (7/8), harga cabai rawit merah tingkat petani di berbagai daerah masih berada dibawah Rp 50.000 per kilo, diantaranya Solok Rp 40.000/kg, Ogan Komering Ilir Rp 40.000/kg, Sumedang Rp 47.000/kg, Indramayu Rp 37.000/kg, Rembang Rp 28.000/kg, Bondowoso Rp 45.000/kg, Belu Rp 25.000/kg, Manggarai Rp 30.000/kg, Kapuas Rp 45.000/kg dan Tapin Rp 45.000/kg.

Sementara harga cabai rawit merah di kawasan Sulawesi rata-rata terpantau normal. Harga cabai rawit di Parigi Moutong terpantau Rp 45.000/kg, Barru Rp 45.000/kg, Sidrap Rp 20.000/kg, Bantaeng Rp 35.000/kg, Pinrang Rp 47.500/kg, Pohuwato Rp 35.000/kg, Majene Rp 30.000/kg dan Mamuju Rp 25.000/kg.

Dihubungi terpisah, Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI Roem Kono meminta pemerintah lebih fokus menata tata niaga cabai supaya harga di petani bisa terjaga. “Pemerintah harus adil, jangan hanya lantang ketika harga naik, sementara saat harga di petani jatuh tidak bisa banyak berbuat. Kuncinya di tata niaga. Kalau harga bisa dijaga stabil menguntungkan, tidak usah disuruh petani pasti antusias menanam. Tinggal selanjutnya diatur pola produksinya,” kata Roem.

Baca juga  Pj. Wako Rida Ananda : LPM Dorong Peningkatan Kualitas SDM 

Politisi Partai Golkar ini menegaskan, persoalan ini bukan hanya tugas Kementan, tapi menjadi tanggung jawab pemerintah secara kolektif, terutama yang membidangi perekonomian cabai.

“Wacana impor cabai itu malah tidak membantu petani kita. Kebijakan yang diambil sedapat mungkin harus memacu para petani. Kalau kemudian mau impor ya cukup dari Sulawesi atau dari Kalimantan, Sumatera. Tapi tidak perlu dari negara lain,” jelas dia.

Untuk itu dia meminta pemerintah hati-hati menyikapi fluktuasi harga cabe saat ini dengan menggelindingkan wacana impor. Dia tidak ingin wacana ini disikapi sinis oleh para petani sehingga meruntuhkan semangat petani yang sedang terpicu dengan manisnya cabai di pasaran.

“Kita ini negara agraris. Masa sedikit-sedikit impor. Saya kira ini harga diri bangsa jadi harus dipikirkan,” tegas politisi senior Partai Golkar ini.

Latest Articles

Menteri Nusron Imbau Kepala Daerah Se-NTB Percepat Penyusunan RDTR untuk Optimalkan Potensi Daerah

Agraria.today | Mataram - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala...

Setiap ASN Adalah Humas, CPNS ATR/BPN Perlu Menjadi Penghubung Informasi yang Dipahami Masyarakat

Agraria.today | Cikeas - Dalam era digital yang serba...

Ikuti Arahan WFH di Hari Jumat, Kementerian ATR/BPN Pastikan Layanan Pertanahan Tetap Berjalan Optimal

Agraria.today | Jakarta - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan...

Kementerian ATR/BPN Jadi Supporting Utama PSN Pelabuhan Palembang Baru Tanjung Carat

Agraria.today | Palembang - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan...

Ruko Berstatus HGB Bisa Jadi Hak Milik, Simak Syarat dan Ketentuannya

Agraria.today | Jakarta - Status hak atas tanah menjadi...

Optimalisasi Lahan HGU Jadi Salah Satu Strategi Satgas PPR Percepat Huntap

Agraria.today - Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas...

Related Articles

Menteri Nusron Imbau Kepala Daerah Se-NTB Percepat Penyusunan RDTR untuk Optimalkan Potensi Daerah

Agraria.today | Mataram - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, mengimbau pemerintah daerah (Pemda) di Provinsi Nusa Tenggara Barat...

Setiap ASN Adalah Humas, CPNS ATR/BPN Perlu Menjadi Penghubung Informasi yang Dipahami Masyarakat

Agraria.today | Cikeas - Dalam era digital yang serba cepat dan terbuka, setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional...

Ikuti Arahan WFH di Hari Jumat, Kementerian ATR/BPN Pastikan Layanan Pertanahan Tetap Berjalan Optimal

Agraria.today | Jakarta - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menetapkan kebijakan work from home (WFH) setiap hari Jumat. Kebijakan ini merujuk...