Tamu AgrariaPentingnya, Netralitas Sebagai Pj Gubernur DKI Jakarta

Pentingnya, Netralitas Sebagai Pj Gubernur DKI Jakarta

Beberapa pakar berpendapat bahwa Pj Gubernur DKI Jakarta idealnya ialah sosok yang netral, adil, dan tepat serta mampu mengharmonisasikan situasi sosial, budaya, dan politik di masyarakat yang sudah terpolarisasi.

Tak lama lagi, masa tugas lima tahun Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akan berakhir pada 16 Oktober 2022. DPRD DKI Jakarta sudah mengusulkan tiga nama yang sudah disampaikan kepada Presiden RI melalui Kementerian Dalam Negeri RI untuk selanjutnya diproses di TPA (Tim Penilai Akhir).

Dari tanggapan beberapa pengamat, anggota DPD RI asal DKI Jakarta, peneliti senior BRIN, dan dari unsur-unsur  masyarakat, menilai bahwa sosok figur yang tepat, adil, dan netral adalah Bahtiar; dengan pertimbangan  pengalaman di pemerintahan sebagai Direktur Ormas Dirjen Polpum Kemendagri, yang dikenal dekat dengan kalangan jurnalis di Indonesia ini juga pernah menjadi pejabat madya atau pejabat eselon I di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Selain pernah menjabat sebagai Pj Gubernur Kepulauan Riau, beliau juga menjabat sebagai Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen), Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri RI.

“Dr.Bahtiar sudah punya rekam jejak di Kemendagri dengan berbagai posisi strategis mengurus bidang kebangsaan, ketahanan seni budaya ini juga sangat memahami mengurus daerah, mempunyai jaringan yang luas dengan lintas tokoh masyarakat, akademisi, intelektual, seniman, budayawan, pekerja seni,ormas, penggiat lingkungan, dan media”

Baca juga  Walikota Payakumbuh Ingin Kembali Jadi Pengusaha

Lebih lanjut Prof Dr Jimly Assiddiqie, tiga nama kandidat Pj Gubernur DKI Jakarta yang dicalonkan oleh DPRD DKI Jakarta, figur Dr Bahtiar yang lebih tepat, adil, dan netralitas merupakan hal penting  sebagai Pj Gubernur DKI Jakarta. Seperti yang ditegaskan Prof Jimly, figur Dr Bahtiar yang lebih ideal karena memiliki kapasitas dan kualifikasi seperti yang telah ditentukan.

DKI Jakarta memang memerlukan figur baru pemimpin daerah DKI Jakarta yang netral atau tidak punya beban politik. Sementara, DKI Jakarta membutuhkan figur yang mampu mengharmonisasikan kepentingan pemerintahan pusat dan pemerintah daerah, di posisi yang netral dan mampu mengakomodasi berbagai pemangku kepentingan.

Jika sosok atau figur pemimpin seperti Dr.Bahtiar yang nanti akan terpilih sebagai Pj Gubernur DKI Jakarta, maka seperti yang disampaikan juga oleh peneliti  senior BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) Prof Dr Siti Zuhro, DKI Jakarta akan bisa lebih berkembang maju karena dipimpin oleh pemimpin daerah yang sudah memahami alur pemerintahan sebagai “bekal” mengelola DKI Jakarta bersama jajaran struktural lainnya dan “…mampu mengharmonisasikan kebijakan pemerintah pusat dan daerah… serta dapat menjalin komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan di DKI Jakarta secara vertikal maupun horisontal….”

Baca juga  Peristiwa Kupang dan Jeneponto: Soliditas TNI-Polri di Daerah Memprihatinkan

Selain itu, seperti yang diharapkan oleh banyak pihak, sosok figur Dr Bahtiar memang yang paling tepat karena sudah dikenal netral dan dekat dengan masyarakat serta kemampuan mengharmonisasikan kepentingan masyarakat yang multikultur dan dengan latar belakang tentang nilai-nilai kebangsaan. Sehingga, selain itu sosok  Dr.Bahtiar akan lebih berkemampuan mengelola DKI Jakarta tanpa harus terjebak dengan politik praktis

Sosok Bahtiar tidak mempunyai “beban” atau “kepentingan politik”  sehingga lebih mudah melakukan  komunikasi publik kearifan dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mengharmonikan “polarisasi” ditengah masyarakat dan DKI Jakarta sebagai barometer nasional. Maka, pentingnya latar belakang netralitas, diharapkan figur Dr.Bahtiar dapat menjadi pertimbangan Presiden RI dan Tim Penilai Akhir (TPA).   (*)

Latest Articles

Menteri Nusron Imbau Kepala Daerah Se-NTB Percepat Penyusunan RDTR untuk Optimalkan Potensi Daerah

Agraria.today | Mataram - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala...

Setiap ASN Adalah Humas, CPNS ATR/BPN Perlu Menjadi Penghubung Informasi yang Dipahami Masyarakat

Agraria.today | Cikeas - Dalam era digital yang serba...

Ikuti Arahan WFH di Hari Jumat, Kementerian ATR/BPN Pastikan Layanan Pertanahan Tetap Berjalan Optimal

Agraria.today | Jakarta - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan...

Kementerian ATR/BPN Jadi Supporting Utama PSN Pelabuhan Palembang Baru Tanjung Carat

Agraria.today | Palembang - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan...

Ruko Berstatus HGB Bisa Jadi Hak Milik, Simak Syarat dan Ketentuannya

Agraria.today | Jakarta - Status hak atas tanah menjadi...

Optimalisasi Lahan HGU Jadi Salah Satu Strategi Satgas PPR Percepat Huntap

Agraria.today - Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas...

Related Articles

TATA KELOLA PEMBANGUNAN PAPUA: MELAMPAUI SEKADAR SAWIT

Agraria.today - Pembangunan Papua pada dasarnya adalah upaya mencari keseimbangan antara kesejahteraan, keberlanjutan ekologi, dan legitimasi sosial dalam satu kerangka kebijakan yang utuh. Tantangannya...

PAPUA, PEMBANGUNAN, DAN KEHATI-HATIAN NEGARAMenimbang ESG Sawit dan Hutan dalam Perspektif GRC

Agraria.today - Perdebatan mengenai pembangunan Papua kembali mengemuka, kali ini melalui isu kelapa sawit. Namun sesungguhnya yang sedang diuji bukanlah satu komoditas, melainkan cara...

PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DI PERSIMPANGAN JALAN?

Agraria.today - UUD 1945 pasal 33 ayat 3, menyatakan bahwa : “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan...