Tamu AgrariaSylvia Fully : Indonesia Tetap yang Terindah di Dunia

Sylvia Fully : Indonesia Tetap yang Terindah di Dunia

Pagi hari jelang syuting film “Sampah”, Sylvia Fully sudah berkeliling perkebunan teh Semanggih, di Desa Banyu Mudal, Pemalang, Jawa Tengah. Mengenakan kaos lengan panjang, artis bernama lengkap Sylvia Fully Rahaesita itu sesekali mempercepat langkahnya

”Mau lari tapi jalan berbatu, takut keseleo,” kata artis yang kerap disapa Neng ini.

Di jalan, Sylvi bertegur sapa dengan ibu-ibu paro baya yang membawa bakul di pundaknya. Para pekerja pemetik teh itu berjalan sigap.

”Saya suka sekali suasana seperti ini. Jauh dari kebisingan dan polusi. Indonesia sepertinya luas dan damai,” kata mojang kelahiran Bandung 29 tahun lalu itu.

Bercerita tentang indahnya panorama di lokasi syuting seperti tak ada habisnya. Pemenang lomba “Miss Celebrity” yang digelar stasiun televisi SCTV itu sudah berkeliling Indonesia, mengunjungi tempat-tempat yang indah, di antaranya Danau Toba, Raja Ampat, Bunaken, dan Bromo. Tapi ia juga pernah berkunjung ke beberapa negara lain.

Baca juga  Peristiwa Kupang dan Jeneponto: Soliditas TNI-Polri di Daerah Memprihatinkan

”Membandingkan Indonesia dengan negeri lain, saya tetap lebih memilih Indonesia untuk yang disebut terindah di dunia,” kata Sylvi.

Di balik keindahan yang dia rasakan terselip tentang rakyat Indonesia yang secara ekonomi belum maju seperti yang dilihatnya di negara lain.

”Malaysia, misalnya. Penghasilan rata-rata rakyat Indonesia masih kalah dan tingkat kesejahteraannya. Saya sih bukan mengkritik pemerintah, ya. Cuma rada aneh aja, kok bisa?” kata pemeran Iriana, istri Presiden Joko Widodo, dalam film “Jokowi adalah Kita” itu.

Sejak merebut Miss Celebrity pada 2010, Sylvia tak pernah sepi tawaran berakting di depan kamera. Baru saja menyelesaikan film berjudul “Harim di Tanah Haram”, ia kini mengambil peran di film karya sutradara Hasto Broto yang bertajuk “Sampah”.
Di film terakhir itu, Sylvi berperan sebagai Mirna, gadis desa yang pandai menari Topeng Endel, dengan latar belakang cerita kawasan Tegal, Slawi, dan Pemalang. [Didang P. Sasmita]

Latest Articles

Kementerian ATR/BPN Raih Penghargaan, Berhasil Tindaklanjuti RHP BPK RI 90,8%

Agraria.today | Jakarta - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan...

Kementerian ATR/BPN Bahas Dasar Penyusunan Anggaran 2027, Fokuskan Efisiensi dan Kualitas Layanan

Agraria.today | Jakarta - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan...

Pemerintah Finalisasi Rencana Induk Pemulihan Pascabencana Sumatra

Agraria.today | Jakarta – Pemerintah menyiapkan rencana induk Percepatan...

Kasatgas Tito: Pemulihan Pascabencana Sumatera Capai Kemajuan Signifikan, Huntap Jadi Prioritas

Agraria.today | Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus...

Raker Bersama Komisi II DPR RI, Menteri Nusron Paparkan Capaian Kinerja dan Anggaran Kementerian ATR/BPN Tahun 2026

Agraria.today | Jakarta - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala...

Perkuat Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah, Wamen Ossy: Targetkan Peta LSD Baru di 17 Provinsi

Agraria.today | Jakarta - Pemerintah berencana memperkuat pelaksanaan pengendalian...

Related Articles

TATA KELOLA PEMBANGUNAN PAPUA: MELAMPAUI SEKADAR SAWIT

Agraria.today - Pembangunan Papua pada dasarnya adalah upaya mencari keseimbangan antara kesejahteraan, keberlanjutan ekologi, dan legitimasi sosial dalam satu kerangka kebijakan yang utuh. Tantangannya...

PAPUA, PEMBANGUNAN, DAN KEHATI-HATIAN NEGARAMenimbang ESG Sawit dan Hutan dalam Perspektif GRC

Agraria.today - Perdebatan mengenai pembangunan Papua kembali mengemuka, kali ini melalui isu kelapa sawit. Namun sesungguhnya yang sedang diuji bukanlah satu komoditas, melainkan cara...

PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DI PERSIMPANGAN JALAN?

Agraria.today - UUD 1945 pasal 33 ayat 3, menyatakan bahwa : “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan...