Ragam AgrariaSurono: Peningkatan aktivitas Gunung Slamet tidak perlu dikhawatirkan

Surono: Peningkatan aktivitas Gunung Slamet tidak perlu dikhawatirkan

Purwokerto ((Feed)) – Pakar geologi Surono menilai peningkatan aktivitas Gunung Slamet yang berada di antara Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Brebes, dan Tegal, Jawa Tengah, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

“Saya dari dulu ngomong Gunung Slamet, slamet (selamat, red.) orangnya, slamet gunungnya, begitu saja. Enggak sesuatu yang harus dihebohkan atau dikhawatirkan,” katanya saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Senin.

Pria yang akrab disapa Mbah Rono itu mengatakan kondisi Gunung Slamet setiap kali mengalami peningkatan aktivitas memang seperti sekarang ini.

Dalam hal ini, aktivitas kegempaan Gunung Slamet yang berstatus waspada (Level II) sejak tanggal 9 Agustus 2019 cenderung menunjukkan gempa embusan dan tremor menerus.

“Paling nanti kalau meletus (berupa) semburan-semburan material pijar, tidak perlu dikhawatirkan,” katanya.

Disinggung mengenai kemungkinan adanya periodisasi dalam peningkatan aktivitas Gunung Slamet, dia mengatakan hal itu bisa saja terjadi dan bisa juga tidak ada periodisasi.

Berdasarkan catatan (Feed), Gunung Slamet pernah mengalami peningkatan aktivitas pada tahun 2008-2009 dan setelah kembali normal, aktivitasnya kembali meningkat pada tahun 2014 dan selanjutnya kembali normal hingga akhirnya meningkat lagi pada tahu 2019.

“Nyatanya Gunung Merapi biasanya dua tahunan-empat tahunan, ya sampai sekarang dari tahun 2010 ya begini-begini saja lah. Ya bergantung gunungnya saja, bisa empat tahunan, bisa ini, tergantung lah karena yang namanya alam itu ya, boleh dikatakan seperti itu, boleh dikatakan ya karepnya gunungnya kapan meletusnya, begitu saja,” kata mantan Kepala Badan Geologi itu.

Baca juga  Badut sampai "playlist", cara Ario Bayu dan Hannah dalami peran

Saat dihubungi secara terpisah, petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Slamet, Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Pemalang, Sukedi mengatakan aktivitas Gunung Slamet sejak berstatus waspada (Level II) pada tanggal 9 Agustus 2019 hingga saat ini masih fluktuatif.

“Kondisinya masih flutuatif. Dalam kondisi seperti ini, berarti aktivitas masih sedang berlangsung dan kita masih mengikuti kondisi seperti ini, apakah yang akan terjadi,” katanya.

Ia mengakui sejak Gunung Slamet mengalami peningkatan aktivitas, pihaknyanya harus lebih intensif melakukan pengamatan ketika amplitudo tremor menerusnya naik seperti sekarang.

Akan tetapi ketika amplitudo tremor menerusnya turun, kata dia, hal itu bukan berarti normal karena bisa jadi sebagai suatu langkah gunung api tersebut dalam meningkatkan aktivitasnya, apakah akan diakhiri dengan sebuah letusan ataukah kembali ke normal.

Dia mengakui jika dalam beberapa hari terakhir, amplitudo tremor menerus yang terjadi di Gunung Slamet dominan pada angka 0,5 milimeter dan pada hari Senin (16/9), pukul 00.00-06.00 WIB, dominan 2 milimeter.

Baca juga  KSOP Tanjung Emas waspadai cuaca ekstrem di peralihan musim

“Sejak peningkatan aktivitas, amplitudo tremor menerus tertinggi sempat mencapai 5 milimeter. Kami ikuti terus perkembangannya dan sampai saat ini, Gunung Slamet masih berstatus waspada,” katanya.

Lebih lanjut, Sukedi mengatakan tremor menerus tersebut menunjukkan bahwa adanya aktivitas gempa dangkal.

“Jika aktivitas gempa dangkal itu mampu didorong oleh energi magma, itu mungkin baru akan keluar. Tetapi ketika masih kondisi seperti ini, ya berhenti pada dasar permukaan kawah,” katanya.

Sementara untuk gempa embusan, kata dia, terjadi akibat pelepasan gas yang ada di dasar permukaan kawah dan ketika mampu didorong oleh energi magma, kemungkinan akan terjadi letusan freatik.

Ia mengatakan hingga saat ini, deformasi atau perubahan bentuk pada Gunung Slamet juga masih terjadi. “Deformasi masih terjadi, penggelembungannya masih tampak,” katanya.

Oleh karena itu, kata dia, pihaknya hingga saat ini masih merekomendasikan agar masyarakat atau wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah puncak Gunung Slamet.

Artikel ini dikutip dari Antaranews.com

Latest Articles

Menteri Nusron Imbau Kepala Daerah Se-NTB Percepat Penyusunan RDTR untuk Optimalkan Potensi Daerah

Agraria.today | Mataram - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala...

Setiap ASN Adalah Humas, CPNS ATR/BPN Perlu Menjadi Penghubung Informasi yang Dipahami Masyarakat

Agraria.today | Cikeas - Dalam era digital yang serba...

Ikuti Arahan WFH di Hari Jumat, Kementerian ATR/BPN Pastikan Layanan Pertanahan Tetap Berjalan Optimal

Agraria.today | Jakarta - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan...

Kementerian ATR/BPN Jadi Supporting Utama PSN Pelabuhan Palembang Baru Tanjung Carat

Agraria.today | Palembang - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan...

Ruko Berstatus HGB Bisa Jadi Hak Milik, Simak Syarat dan Ketentuannya

Agraria.today | Jakarta - Status hak atas tanah menjadi...

Optimalisasi Lahan HGU Jadi Salah Satu Strategi Satgas PPR Percepat Huntap

Agraria.today - Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas...

Related Articles

Kasatgas Tito: Pemulihan Pascabencana Sumatera Capai Kemajuan Signifikan, Huntap Jadi Prioritas

Agraria.today | Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian menyampaikan...

AMUKAN GAJAH DI MESS PT.ARARA ABADI AKIBAT KANTONG GAJAH TELAH DIKONVERSI JADI HTI

Agraria.today - Peristiwa mengamuknya kawanan gajah liar sebanyak 13 ekor menyebabkan kerusakan parah terhadap mess karyawan PT. Arara Abadi pada minggu (22/2) di Kabupaten...

Presiden Prabowo Subianto Sebaiknya Tindak Lanjuti Pencabutan Izin PBPH Perusahan Penyebab Bencana Ekologis Sumatera

Agraria.today - Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) oleh Menteri Kehutanan (sebagaimana dilaporkan pada Februari 2026, yang merupakan tindak lanjut dari 22 izin yang akan...