Ragam AgrariaPusat tekanan rendah di Samudra Pasifik berdampak gelombang tinggi

Pusat tekanan rendah di Samudra Pasifik berdampak gelombang tinggi

Jakarta ((Feed)) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi gelombang tinggi yang akan terjadi di beberapa wilayah perairan di Indonesia karena terdampak pusat tekanan rendah 998 hPa di Samudra Pasifik timur Filipina.

Informasi dari Kabag Humas BMKG Taufan Maulana yang diterima di Jakarta, Jumat, kondisi tersebut bisa berdampak tinggi gelombang 1,25 meter hingga 4 meter dalam beberapa hari ke depan.

Pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya dari Tenggara-Barat Daya dengan kecepatan 4-30 knot sedangkan di wilayah selatan Indonesia dari Timur-Tenggara dengan kecepatan 4-25 Knot.

Kecepatan angin tertinggi terpantau di Perairan selatan Banten, Laut Sulawesi, Laut Maluku, Laut Banda, Perairan Kepulauan Sangihe – Kepulauan Talaud, Perairan Halmahera, Perairan Sorong – Raja Ampat, Perairan Sermata – Tanimbar, Perairan Kei – Aru, Perairan Merauke, dan Laut Arafuru. Kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut.

Dari hasil pantauan BMKG, perairan di Indonesia yang diperkirakan akan mengalami gelombang tinggi 2,50-4 meter yaitu Perairan Barat Pulau Simeulue hingga Kepulauan Mentawai, Laut Maluku bagian Utara, Perairan Bengkulu hingga Barat Lampung, Perairan Timur Bitung-Sitaro, Samudra Hindia Barat Sumatera.

Baca juga  Kadar garam air Sungai Bilu tinggi, PDAM hentikan produksi

Lalu di Laut Halmahera, Selat Sunda bagian Selatan, Perairan Selatan Kepulauan Sermata hingga Kepulauan Tanimbar, Perairan Selatan Jawa hingga Pulau Lombok, Perairan Selatan Kepulauan Kai hingga Kepulauan Aru, Selat Bali – Lombok bagian Selatan Laut Arafuru, Perairan Kepulauan Sangihe hingga Kepulauan Talaud Samudra Pasifik Utara Halmahera hingga Papua Barat.

Sementara perairan di Indonesia yang diperkiraan mengalami gelombang tinggi 1,25-2,50 meter atau kategori sedang yaitu Selat Malaka bagian Utara, Perairan Kepulauan Selayar – Kepulauan Sabalana, Perairan Utara Sabang, Laut Flores, Perairan Sabang – Banda Aceh, Perairan Kepulauan Baubau – Wakatobi Teluk Tolo, Perairan Barat Aceh, Perairan Manui-Kendari, Perairan Timur Keyp Mentawai.

Kondisi yang sama juga diperkirakan terjadi di Perairan Selatan Kepulauan Sula hingga Kepulauan Banggai, Perairan Selatan Pulau Sumbawa hingga Pulau Sumba Laut Banda dan Laut Seram, Selat Sumba, Perairan Selatan Ambon, Perairan Pulau Sawu hingga Pulau Rotte – Kupang, Perairan Utara Kepulauan Sermata – Kepulauan Tanimbar, Laut Timor Selatan NTT dan Laut Sawu.

Baca juga  KLHK-Bank Dunia teken program FCPF di Kaltim

Serta di Perairan Utara Kepulauan Kai hingga Kepulauan Aru, Laut Natuna Utara dan Laut Natuna, Perairan Fakfak-Kaimana-Amamapere, Perairan Utara Pulau Bangka, Laut Sulawesi, Selat Karimata dan Laut Jawa, Perairan Selatan Sulawesi Utara, Perairan Utara Pulau Madura hingga Kepulauan Kangean.

Juga di Laut Maluku bagian Selatan, Perairan Selatan Kalimantan, Perairan Halmahera, Perairan Kotabaru hingga Balikpapan, Perairan Sorong – Raja Ampat, Selat Makassar, Perairan Jayapura, Perairan Kalimantan Utara, dan Samudra Pasifik Utara Papua.

Potensi gelombang tinggi di beberapa wilayah tersebut dapat berisiko terhadap keselamatan pelayaran. Untuk itu, BMKG selalu mengimbau masyarakat terutama yang tinggal atau beraktivitas di pesisir seperti nelayan yang menggunakan perahu untuk mewaspadai kecepatan angin dan tinggi gelombang.

Artikel ini dikutip dari Antaranews.com

Latest Articles

Menteri Nusron Imbau Kepala Daerah Se-NTB Percepat Penyusunan RDTR untuk Optimalkan Potensi Daerah

Agraria.today | Mataram - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala...

Setiap ASN Adalah Humas, CPNS ATR/BPN Perlu Menjadi Penghubung Informasi yang Dipahami Masyarakat

Agraria.today | Cikeas - Dalam era digital yang serba...

Ikuti Arahan WFH di Hari Jumat, Kementerian ATR/BPN Pastikan Layanan Pertanahan Tetap Berjalan Optimal

Agraria.today | Jakarta - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan...

Kementerian ATR/BPN Jadi Supporting Utama PSN Pelabuhan Palembang Baru Tanjung Carat

Agraria.today | Palembang - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan...

Ruko Berstatus HGB Bisa Jadi Hak Milik, Simak Syarat dan Ketentuannya

Agraria.today | Jakarta - Status hak atas tanah menjadi...

Optimalisasi Lahan HGU Jadi Salah Satu Strategi Satgas PPR Percepat Huntap

Agraria.today - Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas...

Related Articles

Kasatgas Tito: Pemulihan Pascabencana Sumatera Capai Kemajuan Signifikan, Huntap Jadi Prioritas

Agraria.today | Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian menyampaikan...

AMUKAN GAJAH DI MESS PT.ARARA ABADI AKIBAT KANTONG GAJAH TELAH DIKONVERSI JADI HTI

Agraria.today - Peristiwa mengamuknya kawanan gajah liar sebanyak 13 ekor menyebabkan kerusakan parah terhadap mess karyawan PT. Arara Abadi pada minggu (22/2) di Kabupaten...

Presiden Prabowo Subianto Sebaiknya Tindak Lanjuti Pencabutan Izin PBPH Perusahan Penyebab Bencana Ekologis Sumatera

Agraria.today - Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) oleh Menteri Kehutanan (sebagaimana dilaporkan pada Februari 2026, yang merupakan tindak lanjut dari 22 izin yang akan...