Ragam AgrariaDiserang ulat bulu, Ratusan mangrove di Muara Gembong terancam mati

Diserang ulat bulu, Ratusan mangrove di Muara Gembong terancam mati

Jadi mangrove ini perlu kita jaga bersama sebab ada nilai ekonomisnya bagi masyarakat sekitar

Cikarang, Bekasi ((Feed)) – Ratusan pohon bakau (mangrove) di Kawasan Ekowisata Hutan Mangrove Desa Pantai Mekar, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, terancam mati.

“Penyebabnya adalah serangan hama ulat bulu. Sangat disayangkan padahal usia bakau yang diserang ini sudah delapan tahun lebih,” kata pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Citra Alam Bahari, Suhendar, di Bekasi, Sabtu.

Dia mengatakan serangan hama ulat bulu ini sudah berlangsung sejak Mei lalu saat peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau.

Ulat-ulat tersebut memakan daun pohon mangrove dari satu pohon ke pohon lainnya. “Jadi ulat ini makan daun pohon mangrove, nah ketika memakan itu fokus pada satu pohon sampai habis. Setelah satu pohon habis kemudian pindah lagi ke pohon lainnya,” kata Suhendar.

Baca juga  BMKG deteksi 334 hotspot kepung Riau

Akibatnya lebih dari seratus pohon mati karena rapuh dan mengering. Padahal ekowisata seluas empat hektare itu selain dijadikan objek wisata juga bagian dari pelestarian alam untuk mencegah abrasi di desa setempat.

“Kami di sini memperhatikan bagaimana hutan mangrove terlindungi supaya tidak berubah fungsi menjadi tambak,” kata dia.

Ekowisata Hutan Mangrove Pantai Mekar ini dikembangkan oleh PT Pertamina EP Asset 3 Tambun Field melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan itu. Wisata alam ini dilengkapi jalur trek menggunakan jembatan bambu menuju ke dalam hutan.

Camat Muara Gembong Junaefi mengatakan ekowisata hutan mangrove di wilayahnya ditujukan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat namun objek wisata ini belum mampu berkembang secara optimal karena terkendala akses menuju lokasi yang masih sulit.

“Hanya bisa diakses menggunakan sepeda motor dan kapal nelayan,” katanya.

Baca juga  Penggemar Marvel bikin petisi pertahankan Spider-Man

Junaefi berharap pemerintah daerah segera merealisasikan pembangunan infrastruktur yang memadai sampai ke lokasi ekowisata untuk memudahkan pengunjung menikmati panorama hutan konservasi tersebut.

“Kalau dari kota, akses tercepat melalui jalur tambak namun jalannya masih berbatu dan banyak lobang besar, belum diaspal. Sementara dari lokasi transit terakhir menuju objek wisata jalannya kecil, tidak bisa dilewati kendaraan roda empat. Kami meminta untuk dilebarkan jalan menuju wisata ini,” kata dia.

Selain itu masyarakat sekitar juga memanfaatkan mangrove sebagai bahan dasar untuk membuat makanan olahan seperti dodol.

“Jadi mangrove ini perlu kita jaga bersama sebab ada nilai ekonomisnya bagi masyarakat sekitar,” kata Junaefi.

Artikel ini dikutip dari Antaranews.com

Latest Articles

Menteri Nusron Imbau Kepala Daerah Se-NTB Percepat Penyusunan RDTR untuk Optimalkan Potensi Daerah

Agraria.today | Mataram - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala...

Setiap ASN Adalah Humas, CPNS ATR/BPN Perlu Menjadi Penghubung Informasi yang Dipahami Masyarakat

Agraria.today | Cikeas - Dalam era digital yang serba...

Ikuti Arahan WFH di Hari Jumat, Kementerian ATR/BPN Pastikan Layanan Pertanahan Tetap Berjalan Optimal

Agraria.today | Jakarta - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan...

Kementerian ATR/BPN Jadi Supporting Utama PSN Pelabuhan Palembang Baru Tanjung Carat

Agraria.today | Palembang - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan...

Ruko Berstatus HGB Bisa Jadi Hak Milik, Simak Syarat dan Ketentuannya

Agraria.today | Jakarta - Status hak atas tanah menjadi...

Optimalisasi Lahan HGU Jadi Salah Satu Strategi Satgas PPR Percepat Huntap

Agraria.today - Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas...

Related Articles

Kasatgas Tito: Pemulihan Pascabencana Sumatera Capai Kemajuan Signifikan, Huntap Jadi Prioritas

Agraria.today | Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian menyampaikan...

AMUKAN GAJAH DI MESS PT.ARARA ABADI AKIBAT KANTONG GAJAH TELAH DIKONVERSI JADI HTI

Agraria.today - Peristiwa mengamuknya kawanan gajah liar sebanyak 13 ekor menyebabkan kerusakan parah terhadap mess karyawan PT. Arara Abadi pada minggu (22/2) di Kabupaten...

Presiden Prabowo Subianto Sebaiknya Tindak Lanjuti Pencabutan Izin PBPH Perusahan Penyebab Bencana Ekologis Sumatera

Agraria.today - Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) oleh Menteri Kehutanan (sebagaimana dilaporkan pada Februari 2026, yang merupakan tindak lanjut dari 22 izin yang akan...