Ragam AgrariaPengamat ajak ikuti kearifan Kerajaan Sriwijaya demi cegah karhutla

Pengamat ajak ikuti kearifan Kerajaan Sriwijaya demi cegah karhutla

Di dalam Prasasti Talang Tuo sudah diatur tata kelola air dan keragaman tanaman

Palembang ((Feed)) – Pengamat komunikasi lingkungan Dr. Yenrizal Tarmidzi mengajak Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan beserta 17 kabupaten/kota untuk mengikuti kearifan Kerajaan Sriwijaya demi mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

“Kerajaan Sriwijaya meninggalkan Prasasti Talang Tuo yang berisi ajaran atau sejenis aturan mengenai nilai-nilai penting mengelola lingkungan agar tetap seimbang dan terjaga,” kata Dr. Yenrizal dari UIN Raden Fatah Palembang di Palembang, Jumat.

Menurut dia peristiwa kebakaran hutan, kebun dan lahan yang terjadi setiap tahun di Sumsel disebabkan pengelolaan tata ruang yang bertentangan dengan prinsip lingkungan di masa Kerajaan Sriwijaya ribuan tahun lalu.

Dr. Yenrizal yang pernah meneliti Prasasti Talang Tuo, menerangkan bahwa hanya Sriwijaya satu-satunya kerajaan di nusantara yang meninggalkan prasasti berisi ajaran tata lingkungan, sehingga dapat disimpulkan kerajaan maritim tersebut sudah menyadari keseimbangan alam sejak awal berdiri pada abad ke tujuh.

Baca juga  Kapolda Kalbar : 504.000 warga terdampak ISPA

Prasasti Talang Tuo salah satunya menyebut bahwa Kerajaan Sriwijaya memiliki taman margasatwa berisi macam-macam jenis tanaman seperti aren, sagu, dan nanas.

Konsep taman itulah yang diwariskan Sriwijaya guna menunjukkan eksistensinya, meskipun jejaknya saat ini hanya dapat ditemui di wilayah tertentu.

“Di dalam Prasasti Talang Tuo sudah diatur tata kelola air dan keragaman tanaman, ada juga keterangan mengenai komitmen pimpinannya mengenai keterjagaan lingkungan serta imbauan kepada masyarakat saat itu agar peduli terhadap sesama makhluk hidup, itulah alasan Sriwijaya disebut sudah maju pada masanya,” jelasnya.

Sementara kondisi saat ini kata dia, ekosistem hutan berganti dengan hamparan sawit dan karet sehingga mengurangi keragaman hayati, serta kurangnya perhatian dalam tata kelola pertanian membuat karhutla terus melanda setiap tahun.

“Faktor alam memang ada, tetapi tidak mesti setiap kemarau harus terbakar dan terus-menerus pasrah, apalagi namanya karhutla kecil sekali kemungkinan terbakar sendiri, pasti ada yang membakar duluan,” ujarnya.

Baca juga  Pakar sebut kembalinya fungsi hidrologis gambut cegah karhutla

Ia menyebut karhutla yang terjadi saat ini seperti mengingkari Prasasti Talang Tuo yang diwariskan Kerajaan Sriwijaya, akibatnya pada musim kemarau selalu terjadi karhutla dan pada musim hujan kerap terjadi bencana banjir.

“Pengingkaran itu sama saja seperti ‘Kualat’ dengan Kerajaan Siriwjaya,” kata Dr. Yenrizal.

Meski demikian, menurutnya masih ada wilayah di Sumsel yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi seperti di Dusun Sungsang Kabupaten Banyuasin. Lokasi itu harus dijaga agar tidak ikut hancur dengan alasan pembangunan.

“Pemerintah daerah harus membuat program-program pembangunannya berbasis ramah lingkungan, terutama daerah-daerah yang memang rawan, seperti di Desa Muara Medak Kabupaten Musi Banyuasin yang rawan karhutla,” demikian Dr. Yenrizal.

 

Artikel ini dikutip dari Antaranews.com

Latest Articles

Kementerian ATR/BPN Raih Penghargaan, Berhasil Tindaklanjuti RHP BPK RI 90,8%

Agraria.today | Jakarta - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan...

Kementerian ATR/BPN Bahas Dasar Penyusunan Anggaran 2027, Fokuskan Efisiensi dan Kualitas Layanan

Agraria.today | Jakarta - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan...

Pemerintah Finalisasi Rencana Induk Pemulihan Pascabencana Sumatra

Agraria.today | Jakarta – Pemerintah menyiapkan rencana induk Percepatan...

Kasatgas Tito: Pemulihan Pascabencana Sumatera Capai Kemajuan Signifikan, Huntap Jadi Prioritas

Agraria.today | Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus...

Raker Bersama Komisi II DPR RI, Menteri Nusron Paparkan Capaian Kinerja dan Anggaran Kementerian ATR/BPN Tahun 2026

Agraria.today | Jakarta - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala...

Perkuat Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah, Wamen Ossy: Targetkan Peta LSD Baru di 17 Provinsi

Agraria.today | Jakarta - Pemerintah berencana memperkuat pelaksanaan pengendalian...

Related Articles

Kasatgas Tito: Pemulihan Pascabencana Sumatera Capai Kemajuan Signifikan, Huntap Jadi Prioritas

Agraria.today | Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian menyampaikan...

AMUKAN GAJAH DI MESS PT.ARARA ABADI AKIBAT KANTONG GAJAH TELAH DIKONVERSI JADI HTI

Agraria.today - Peristiwa mengamuknya kawanan gajah liar sebanyak 13 ekor menyebabkan kerusakan parah terhadap mess karyawan PT. Arara Abadi pada minggu (22/2) di Kabupaten...

Presiden Prabowo Subianto Sebaiknya Tindak Lanjuti Pencabutan Izin PBPH Perusahan Penyebab Bencana Ekologis Sumatera

Agraria.today - Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) oleh Menteri Kehutanan (sebagaimana dilaporkan pada Februari 2026, yang merupakan tindak lanjut dari 22 izin yang akan...